The 27th Béla Bartók International Choir Competition

            Dari masa ke masa, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (PSM Unpar) Bandung terus mengukir prestasi di kancah internasional. Tahun ini PSM Unpar berhasil mengharumkan nama Indonesia di Hungaria dan Spanyol. Rangkaian The 27th Béla Bartók International Choir Competition dimulai pada tanggal 8 Juli di Debrecen, Hungaria. Kompetisi paduan suara internasional Béla Bartók adalah kompetisi paduan suara yang berfokus pada karya kontemporer dan menggunakan standar penilaian yang tinggi di seluruh dunia selama lebih dari setengah abad. Kompetisi ini terbuka untuk paduan suara amatir seperti kelompok paduan suara dari Ukraina, Jerman, Hungaria, Latvia, Slovenia, Estonia, dan Italia serta paduan suara profesional seperti Udiana Choir dari Israel, sehingga memberikan tantangan lebih untuk PSM Unpar. Melalui kompetisi ini, karya-karya komposer Hungaria seperti Cor Mundum (György Orbán), L’étoile a pleure rose (Vadja Janós), Ye heavy states of night (Szabó Barna), dan My Poor Fool (Tamás Beischer Matyó) diperkenalkan sebagai lagu wajib untuk kedua kategori yang diikuti oleh PSM Unpar yakni Chamber Choir dan Mixed Choir.

Dalam babak semi-final PSM Unpar membawakan karya-karya kontemporer Knut Nystedt, Jung-Sun Park, dan Morten Lauridsen. Pada tanggal 9 Juli, PSM Unpar berhasil maju ke babak final dalam dua kategori dan membawakan lagu-lagu kontemporer karya Ben Hanlon, Vytautas Barkauskas, William Hawley, dan Pēteris Vasks. PSM Unpar juga menggunakan ajang ini untuk memperkenalkan karya-karya komposer Indonesia seperti Dies Irae dan Aprés un rêve karya Ivan Yohan; Angele Dei dan Fecit Potentiam karya Ken Steven.

            Melalui penampilan di babak semi-final dan babak final, PSM Unpar berhasil meraih 2nd Prize untuk Chamber Choir, 3rd Prize untuk Mixed Choir dan special award for Excellent Conducting Performance untuk konduktor PSM Unpar, Ivan Yohan. Prestasi ini tidak bisa dianggap remeh, mengingat lagu-lagu kontemporer menuntut penyanyi untuk bisa menguasai materi lagu yang sulit dengan teknik vokal yang terlatih dan penghayatan lagu yang mendalam. Disamping itu, selama 55 tahun pelaksanaan Kompetisi Paduan Suara Internasional Béla Bartók, PSM Unpar adalah delegasi Indonesia pertama yang berhasil meraih juara, mengingat tingkat kesulitan dan beratnya saingan tiap tahunnya. Selama kompetisi di Debrecen berlangsung, PSM Unpar mendapat kunjungan dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Hungaria yang menyaksikan penampilan dari PSM Unpar secara langsung. Dukungan yang diberikan oleh pihak kedutaan juga ditunjukkan dalam bentuk penyediaan tempat latihan selama PSM Unpar singgah di Budapest untuk mempersiapkan kompetisi di Spanyol.

            Rangkaian kompetisi PSM berlanjut ke kota pesisir Spanyol yakni Torrevieja dalam The 62nd International Choral Contest Habaneras and Polyphony. Pada tanggal 21 Juli penampilan PSM Unpar dibagi menjadi dua babak yakni polifoni dan habanera yang merupakan lagu tarian asal Kuba dan diciptakan oleh para pelaut yang populer di Spanyol. Dalam babak polifoni, PSM Unpar menampilkan Gloria Patri karya Budi Susanto Yohanes dan Yamko Ramko Yamko karya Ivan Yohan dan Avip Priatna. Sedangkan dalam babak habaneras, PSM Unpar menampilkan satu lagu wajib yaitu A Mi “Añoransa”, dan dua lagu pilihan yang berjudul El Ausente dan . Dalam malam Great Choral Gala tanggal 23 Juli, PSM Unpar kembali tampil membawakan lagu dan Yamko Rambe Yamko sebagai salah satu dari tujuh paduan suara yang terpilih.

PSM Unpar berhasil meraih 2nd Prize dalam kategori polifoni, 3rd Prize dalam kategori habanera dan Premio Francisco Vallejos for Popular Rooted Habanera dengan lagu . Kontes Paduan Suara Internasional Habanera dan Polifoni adalah kompetisi paduan suara tertua di dunia yang dimulai pada tahun 1955 dan PSM Unpar menghadapi 15 pesaing dari berbagai negara seperti Argentina, Venezuela, Portugal, Puerto Rico, Ukraina, Spanyol, Latvia, Polandia dan Kuba. Dari 15 peserta yang berpartisipasi, hanya tiga tim paduan suara yang berhasil meraih enam predikat juara dari kedua kategori, yakni Coralia Choir dari Puerto Rico, Entrevoces dari Kuba dan PSM Unpar. Ini adalah sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap remeh, mengingat PSM Unpar adalah satu-satunya peserta dari Asia dan harus melawan peserta yang berasal dari negara-negara dimana lagu-lagu Habanera berasal.

            Kedua kompetisi yang diikuti oleh PSM Unpar dan gelar juara yang telah diraih menandakan sepak terjang PSM Unpar yang terus maju tiap tahunnya. Prestasi ini dicapai bukan hanya untuk mempertahankan eksistensi, namun juga untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Melalui kompetisi bertaraf internasional ini, PSM Unpar telah berhasil menyerukan bahwa paduan suara dari Indonesia patut untuk diperhitungkan.   

            Dari masa ke masa, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (PSM Unpar) Bandung terus mengukir prestasi di kancah internasional. Tahun ini PSM Unpar berhasil mengharumkan nama Indonesia di Hungaria dan Spanyol. Rangkaian The 27th Béla Bartók International Choir Competition dimulai pada tanggal 8 Juli di Debrecen, Hungaria. Kompetisi paduan suara internasional Béla Bartók adalah kompetisi paduan suara yang berfokus pada karya kontemporer dan menggunakan standar penilaian yang tinggi di seluruh dunia selama lebih dari setengah abad. Kompetisi ini terbuka untuk paduan suara amatir seperti kelompok paduan suara dari Ukraina, Jerman, Hungaria, Latvia, Slovenia, Estonia, dan Italia serta paduan suara profesional seperti Udiana Choir dari Israel, sehingga memberikan tantangan lebih untuk PSM Unpar. Melalui kompetisi ini, karya-karya komposer Hungaria seperti Cor Mundum (György Orbán), L’étoile a pleure rose (Vadja Janós), Ye heavy states of night (Szabó Barna), dan My Poor Fool (Tamás Beischer Matyó) diperkenalkan sebagai lagu wajib untuk kedua kategori yang diikuti oleh PSM Unpar yakni Chamber Choir dan Mixed Choir.

Dalam babak semi-final PSM Unpar membawakan karya-karya kontemporer Knut Nystedt, Jung-Sun Park, dan Morten Lauridsen. Pada tanggal 9 Juli, PSM Unpar berhasil maju ke babak final dalam dua kategori dan membawakan lagu-lagu kontemporer karya Ben Hanlon, Vytautas Barkauskas, William Hawley, dan Pēteris Vasks. PSM Unpar juga menggunakan ajang ini untuk memperkenalkan karya-karya komposer Indonesia seperti Dies Irae dan Aprés un rêve karya Ivan Yohan; Angele Dei dan Fecit Potentiam karya Ken Steven.

            Melalui penampilan di babak semi-final dan babak final, PSM Unpar berhasil meraih 2nd Prize untuk Chamber Choir, 3rd Prize untuk Mixed Choir dan special award for Excellent Conducting Performance untuk konduktor PSM Unpar, Ivan Yohan. Prestasi ini tidak bisa dianggap remeh, mengingat lagu-lagu kontemporer menuntut penyanyi untuk bisa menguasai materi lagu yang sulit dengan teknik vokal yang terlatih dan penghayatan lagu yang mendalam. Disamping itu, selama 55 tahun pelaksanaan Kompetisi Paduan Suara Internasional Béla Bartók, PSM Unpar adalah delegasi Indonesia pertama yang berhasil meraih juara, mengingat tingkat kesulitan dan beratnya saingan tiap tahunnya. Selama kompetisi di Debrecen berlangsung, PSM Unpar mendapat kunjungan dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Hungaria yang menyaksikan penampilan dari PSM Unpar secara langsung. Dukungan yang diberikan oleh pihak kedutaan juga ditunjukkan dalam bentuk penyediaan tempat latihan selama PSM Unpar singgah di Budapest untuk mempersiapkan kompetisi di Spanyol.

            Rangkaian kompetisi PSM berlanjut ke kota pesisir Spanyol yakni Torrevieja dalam The 62nd International Choral Contest Habaneras and Polyphony. Pada tanggal 21 Juli penampilan PSM Unpar dibagi menjadi dua babak yakni polifoni dan habanera yang merupakan lagu tarian asal Kuba dan diciptakan oleh para pelaut yang populer di Spanyol. Dalam babak polifoni, PSM Unpar menampilkan Gloria Patri karya Budi Susanto Yohanes dan Yamko Ramko Yamko karya Ivan Yohan dan Avip Priatna. Sedangkan dalam babak habaneras, PSM Unpar menampilkan satu lagu wajib yaitu A Mi “Añoransa”, dan dua lagu pilihan yang berjudul El Ausente dan . Dalam malam Great Choral Gala tanggal 23 Juli, PSM Unpar kembali tampil membawakan lagu dan Yamko Rambe Yamko sebagai salah satu dari tujuh paduan suara yang terpilih.

PSM Unpar berhasil meraih 2nd Prize dalam kategori polifoni, 3rd Prize dalam kategori habanera dan Premio Francisco Vallejos for Popular Rooted Habanera dengan lagu . Kontes Paduan Suara Internasional Habanera dan Polifoni adalah kompetisi paduan suara tertua di dunia yang dimulai pada tahun 1955 dan PSM Unpar menghadapi 15 pesaing dari berbagai negara seperti Argentina, Venezuela, Portugal, Puerto Rico, Ukraina, Spanyol, Latvia, Polandia dan Kuba. Dari 15 peserta yang berpartisipasi, hanya tiga tim paduan suara yang berhasil meraih enam predikat juara dari kedua kategori, yakni Coralia Choir dari Puerto Rico, Entrevoces dari Kuba dan PSM Unpar. Ini adalah sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap remeh, mengingat PSM Unpar adalah satu-satunya peserta dari Asia dan harus melawan peserta yang berasal dari negara-negara dimana lagu-lagu Habanera berasal.

            Kedua kompetisi yang diikuti oleh PSM Unpar dan gelar juara yang telah diraih menandakan sepak terjang PSM Unpar yang terus maju tiap tahunnya. Prestasi ini dicapai bukan hanya untuk mempertahankan eksistensi, namun juga untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Melalui kompetisi bertaraf internasional ini, PSM Unpar telah berhasil menyerukan bahwa paduan suara dari Indonesia patut untuk diperhitungkan.