Joyous Festive, Konser Yang Menghadirkan Kegembiraan

Harmoni dan kepiawan teknik bernyanyi ditunjukkan dalam sesi pertama. Di bawah pimpinan Daniel Alexander (Akuntansi 2009), sekitar 88 chorister pun sukses membawakan lagu bertema Madrigals (tanpa instrumen musik) dan Romantic Era. Di tengah lantunan lirik dan nada yang indah, sesekali setiap 10 menit, suara pesawat terdengar jelas sedang melintas di atas ruangan itu. Lima lagu selesai dibawakan dan disambut tepuk tangan penonton puas.

Dua puluh menit menjelang istirahat, Jeremy Budi Santoso (Akuntansi 2010) selaku konduktor memimpin chorister membawakan empat lagu kontemporer. Lagu berjudul “Go, Lovely Rose” menjadi yang tersulit bagi Jeremy.“Lagu ini  sangat membutuhkan dinamika sebab banyak nada dinyanyikan secara bersamaan dan harus menyeimbangkan keras dan pelannya suara,” Ujarnya.

Tepat pada pukul 19.45 WIB, baik chorister maupun penonton diperkenankan beristirahat. Canda, tawa, dan tegur sapa menghiasi lima belas menit waktu jeda itu. Ada yang pergi ke toilet dan tidak sedikit yang meninggalkan bangku untuk melihat souvernir.

Konser yang berlangsung pada Minggu malam (10/5) itu tergolong konser internal. Dengan tema Joyous Festive, konser ini menjadi yang pertama bagi mahasiswa/i 2014 yang baru bergabung. Di konser yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Unpar itu, proses pelatihan sebelum menjadi anggota-tetap diuji. Seperti yang diterangkan oleh Rahel Eterlita (HI 2013) selaku ketua konser, “Di akhir konser ini mereka telah resmi menjadi tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar.”

20.00 WIB menandakan dimulainya sesi kedua. Seluruh penonton segera menempati tempat duduknya. Chorister dengan berbalutkan baju merah maroon kembali mengisi panggung. Ryan Michael (Teknik Kimia 2011) selaku konduktor berdiri di antara chorister dan penonton, tanda sesi dua akan segera dimulai. Pria berjas putih itu membawakan lagu bertema Choral Works Without Words. Lagu-lagu pada sesi ini dibawakan dengan unik, tidak lagi menggunakan lirik, tetapi lewat sepotong kata yang terdengar seperti A cappellapada lagu Can-Can dan William Tell Overture.

Penampilan unik lainnya juga kembali ditunjukkan oleh para chorister saat dipimpin oleh Alfonsus Albert (Manajemen 2013). Setelah tiga lagu pertama dinyanyikan, choristerserentak mengoper buku lagu mereka. Satu demi satu buku itu dioper ke rekan yang lain dan diterima oleh seorang penanggung jawab di bawah panggung. Tiba-tiba, suara hentakan kaki dan kombinasi tepukan tangan memotong keheningan penonton. Jump dan MammaMia adalah kedua lagu yang dinyanyikan dengan cara unik itu. Tidak hanya gerakkan, kedua lagu itu juga dibawakan dengan bantuan piano, gitar elektrik, bass, dan cajon.

Di akhir konser, para konduktor dipanggil ke tengah panggung dan menerima bunga. Belum juga konser selesai, para penonton berseru bersama-sama sambil bertepuk tangan, “We want more!” Hal itu disambut dengan suara piano terdengar penuh sebab dimainkan dengan teknik Piano Four Hands (Piano empat tangan). Daniel dan Albert memainkan melodi dengan Jeremy memimpin sebagai konduktor membawakan lagu berjudul Ritmo.

Tawa dan kegembiraan menyeruak di ruangan seukuran GSG itu. Luapan kebahagiaan terlukis jelas dalam raut wajah chorister. Baik penonton maupun chorister menyalami satu dengan yang lain memberi selamat dan tersenyum lebar. Momen pun diabadikan dengan kamera HP, baik sendiri maupun bersama-sama. Tidak hanya sesama mahasiswa, para orang tua yang turut hadir juga turut bergembira.

Betapa tidak menggembirakan, dua minggu penuh latihan intensif. Senin sampai Minggu, 5 jam berlatih dari pukul 16.00 WIB. Maria Caecillia (Teknik Industri 2014) berkata,”Senang sekali telah melewati konser ini dan resmi menjadi tim PSM walaupun sewaktu latihan melelahkan sekali!”

VINCENT FABIAN